Kok Cuma Jadi Guru
“Kamu
pinter lho...bisa dapet kerjaan bagus, kok milih jadi guru”
Pertanyaan semacam itu seringkali ditujukan kepada saya.
Kesel ngga sih? Kesal sudah pasti karena saya bukan malaikat. Seringkali bukan cuma
kesal, tapi juga sedih menghadapi kenyataan bahwa masih banyak orang yang
meremehkan atau menyayangkan jalan yang saya pilih ini. Pertanyaan-pertanyaan
semacam itu seolah menyampaikan pesan bahwa terlalu sayang kalau saya cerdas
dan akhirnya memilih menjadi guru. Menyedihkan.
Memilih menjadi guru atau pendidik
sama hal nya dengan memilih profesi lainnya. Tentu sebelum memilih, ada banyak
hal yang dipertimbangkan. Saya pribadi memilih menjadi guru karena saya bahagia
dan nyaman menjalaninya. Apakah selalu bahagia? Tentu tidak, ada kalanya bosan,
frustasi dan sedih. Tapi dari seluruh perasaan yang ada, rasa bahagia adalah yang paling mendominasi.
Akan tetapi, rasa bahagia bagi saya,
belum tentu definisi bahagia bagi orang lain. Mengambil ungkapan cliche bahwa ‘bahagia itu relatif’. Saya faham bahwa orang-orang yang
mempertanyakan pilihan ini mungkin tidak tahu betapa bahagianya seorang guru
melihat anak didiknya berkembang pesat sesuai dengan potensinya. Dan yang lebih
membahagiakan lagi adalah ikut merasa bahagia ketika anak didiknya bahagia.
Terdengar sederhana, tapi dalam maknanya bagi saya.
Saya merasa menjadi orang yang
paling beruntung ketika menyaksikan perubahan positif pada murid saya. Merasa
begitu haru mengantarkan mereka menjadi individu yang penuh semangat, mencintai
belajar dan berakhlak mulia. Saya merasa bahagia ketika minggu lalu adalah hari
guru dan tiba-tiba murid saya yang sudah lulus berdatangan memberikan kejutan
manis sembari meminta doa agar dimudahkan dalam mengejar impiannya. Bahkan diantara
mereka ada yang jauh-jauh datang dari luar kota.
Saya tidak pernah menyesal memilih
jalan ini. Dan untuk teman-teman yang sering memberikan pertanyaan yang sama
seperti yang saya sampaikan sebelumnya, mari kita saling menghargai pilihan
masing-masing. Apapun jalan yang dipilih, berusahalah menjadi versi yang terbaik, memberikan
perubahan positif, dan pastikan....bahwa pilihan itu membuat kita bahagia lahir
dan bathin serta tidak merugikan orang lain.
Teruntuk
para guru yang membaca;
“Terimakasih untuk energi, waktu bahkan materi yang direlakan
untuk mendidik. Terimakasih karena setiap harinya, engkau selalu membuat
perubahan yang bermakna”
Subscribe to:
Posts (Atom)
